085786355744
smaislamahmadyani@yahoo.co.id
Batang, Jawa Tengah
blog-img
06/04/2020

Kabupaten Batang Diyakini jadi Pintu Masuk Indianisasi di Jawa Tengah

Sugito, S.Pd | Pendidikan

Jejak peradaban tua di Kabupaten Batang seperti tak ada habisnya untuk dieksplorasi dan didiskusikan. Belakangan, kawasan Prasasti Balekembang di Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, kembali menjadi perhatian, menyusul kegiatan ekskavasi yang dilakukan seorang arkeolog asal Prancis, Veronique Degroot, terhadap reruntuhan candi yang sebelumnya terkubur.

Menariknya, kegiatan Veronique Degroot tidak atas sponsor pemerintah, melainkan aktivitas keilmuan swadaya yang dibiayai NGO yang berpusat di Prancis. Keberadaan candi tersebut diyakini kian memperkuat dugaan soal peran penting Kabupaten Batang masa silam dalam proses Indianisasi Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Secara khusus terkait penyebaran ajaran Hindu-Budha.

Jauh sebelum reruntuhan yang diduga candi itu ditemukan, jejak peradaban Hindu itu telah terekam dalam Petirthaan Balekambang yang diperkirakan peninggalan peradaban Hindu abad 5-7 M. Lokasi Prasasti Balekambang sendiri berada di utara jalur pantura, sehingga lebih dekat ke pantai, akses masuknya pengaruh Hindu-Budha, baik sebagai agama, budaya, maupun institusi sosial-politik, seperti mulai dituliskan sebagian ahli.

“Balekambang ini kan lokasinya agak tinggi, tetapi ada air untuk pemandian. Dulu, petirthaan ini dikelilingi beberapa arca, sebagian sudah dievakuasi di Museum Ronggowarsito, sebagian diduga diambil orang. Tetapi para ahli meyakininya sebagai pemandian para raja,” ungkap Kepala Dispapora Batang, Wahyu Budi Santoso, yang bersama pegiat Batang Herritage dan Batang We sempat mendampingi Feronica mengekskavasi reruntuhan candi.

Salah satunya adalah Arca Sri Wasudharra, yang sesuai periodisasi Indianisasi diperkirakan berkembang pada abad 5 sampai 7 M. Jejak itu juga dikaitkan dengan Wangsa Syailendra. Sebelah barat petirthaan juga terdapat kawasan yang diyakini menjadi pemukiman para raja dan pembesar.

Tetapi uniknya, di Sidorejonya sendiri ditemukan areal persawahan yang ditemukan jejak pemukiman. Namun jejak yang ada justru mengarah pada era Majapahit. “Maka muncul kesimpulan, kawasan Balekambang itu menyimpan jejak peradaban abad 5 sampai 13, karena ada Majapahitnya itu,” kata Wahyu didampingi salah satu Kasubbagnya, Rahwan Astyo Wibowo.

Wahyu menilai Prasasti Balekambang akan menjadi petunjuk penting tentang awal proses persebaran Hindu di Kabupaten Batang dan Jawa Tengah. Di tengah masih misterinya penentuan pintu masuk proses Indianisasi itu, sebagian ahli sudah mulai menyebut Kabupaten Batang sebagai kemungkinan paling mendekati teori-teori awal. Pendapat itu terutama karena kondisi geografisnya yang strategis plus kombinasi komplit antara pesisir, daratan, dan dataran tinggi.

“Ditambah jejak situs dan prasasti yang juga semakin memberi petunjuk. Dugaan menguat, bahwa pintu masuk Indianisasi adalah Batang melalui Pantai Celong, lalu naik ke Balekambang, dan seterusnya sampai Sojomerto Reban yang juga ditemukan jejak peradaban abad 6 sampai 7 Masehi,” bebernya.

Namun, menurut Wahyu, apa yang disampaikannya adalah sekadar menyimpulkan beberapa pendapat dan tulisan ahli. Untuk lebih dalamnya, dia mempersilahkan siapapun yang tertarik untuk datang dan berdiskusi dengan mereka yang memang concern, misalnya komunitas Batang Herritage, Batang We, dan lainnya.

“Tetapi apapun itu, masyarakat Batang layak berbangga, bahwa jejak peradaban tua era Hindu-Budha banyak terekam di sini. Yang terpenting ada kepedulian untuk merawat, sekaligus mendorong pendokumentasiannya agar terwariskan ke anak cucu kita nanti,” ungkapnya.

Rencananya, tahun depan Disparpora akan menginisiasi penulisan khazanah jejak peradaban klasik Batang itu menjadi karya yang lebih utuh. Selain untuk dokumentasi, ikhtiar tersebut diharapkan ikut memantik penelitian dan penulisan lanjutan tentang jejak Indianisasi di Kabupaten Batang. (https://radarpekalongan.co.id/)

Bagikan Ke:

Populer